Menu

Menunda Bukan Solusi

Ada Apa di Balik 18 Hari?

Setiap orang punya cara sendiri dalam menepati janji. Ada yang berusaha keras agar tepat waktu, karena sadar janji adalah harga diri. Tapi ada pula yang memandang janji hanya sebagai ucapan manis yang bisa diulur, bisa diubah, atau bahkan bisa ditutupi dengan alasan baru.

Di dunia ini, kita menghadapi banyak tantangan: kebutuhan yang terus bertambah, persaingan yang makin tajam, dan tuntutan hidup yang tak pernah menunggu kita siap. Di tengah kerasnya hidup, orang sering mencari jalan pintas: memberi janji, lalu menunda. Menyampaikan kabar baik, tapi menutupinya dengan alasan ketika waktunya tiba.

Mari kita tarik satu cerita sederhana:
Di akhir bulan, sebuah kabar melegakan terdengar, “Uang sudah ada.”
Seseorang menunggu dengan tenang, percaya bahwa kata-kata itu benar adanya. Hari pun berjalan, tapi yang datang justru alasan kecil: “Tunggu bentar ya.”
Keesokan harinya, alasan baru muncul: “Nanti siang ya.”

Hari-hari pun terus berganti dengan jawaban serupa. Alasan yang terdengar ringan, namun terasa berat bagi yang menunggu.

Sampai akhirnya, kalender menunjuk tanggal 18. Harapan muncul, tapi bukan kepastian yang datang. Justru di hari itu keluar kabar pahit: “Uangnya tidak ada, sudah terpakai.”
Namun, agar tidak terlihat seperti kegagalan, diberilah harapan kedua: “Ada opsi lain, tunggu bentar ya.”

Sekilas terdengar meyakinkan. Namun ternyata, janji itu kembali menguap bersama waktu. Hari demi hari bergulir, dua hari lewat, tiga hari, bahkan empat hari. Sampai akhirnya, langkah menyeret ke tanggal 6 bulan berikutnya.
Dan jika dihitung dengan jari, dari tanggal 18 sampai tanggal 6 itu tepat 18 hari lagi.

Apakah ini kebetulan? Ataukah sebuah pola?
Dan ironisnya, di hari ke-18 itu, bukan solusi yang muncul, melainkan alasan baru. Alasan yang disusun seolah-olah menjadi tumbal dari sebuah dongeng panjang yang tak pernah selesai.

Namun, mari kita jujur pada diri sendiri:
Apakah alasan benar-benar menyelamatkan kita? Ataukah hanya seperti kain tipis yang menutupi luka bernanah? Dari luar terlihat aman, padahal di dalamnya masalah membusuk.

Alasan memang bisa membuat kita selamat sementara waktu. Kita merasa seperti berhasil menghindari badai. Tetapi pada kenyataannya, badai itu hanya bergeser sedikit, menunggu di depan jalan.

Pertanyaannya sederhana:
Sampai kapan kita menunda?
Apakah hidup ini hanya untuk berlari dari masalah?
Ataukah kita mau menghadapinya, satu per satu, sebelum semuanya menumpuk jadi beban besar?

Karena begini: masalah kecil yang tidak diselesaikan hari ini akan menjadi besar besok. Sama seperti tetesan air yang terus-menerus jatuh, lama-lama mampu melubangi batu. Jika kita berani menghadapi yang kecil, kenapa harus menunggu sampai masalah berubah menjadi gunung?

Ingatlah, dunia ini lebih keras dari sekadar urusan janji. Tantangan hidup tidak mengenal tanggal tertentu. Ia bisa datang kapan saja: ketika pekerjaan dipertaruhkan, ketika keluarga menuntut, ketika nama kita dipertanyakan. Dan ironisnya, sering kali bukan kita sendiri yang menyadari kehancuran itu, melainkan orang-orang di sekitar kita.

Mereka mungkin tidak menegur langsung. Mereka tidak akan berteriak di depan wajah kita. Tapi dari jauh, mereka memberi tanda satu sama lain: “Hati-hati, jangan terlalu dekat. Ia sering menunda. Ia suka beralasan.”

Dan perlahan, tanpa kita sadari, nama kita tercoreng. Bukan oleh hujatan, melainkan oleh bisikan yang menyebar lebih cepat dari angin.

👉 Bagi yang pernah berbuat, berhentilah sekarang. Jangan lagi menutup masalah dengan alasan manis, karena setiap alasan hanya menambah luka dan memperdalam jurang kepercayaan.
👉 Bagi yang belum berbuat, ini peringatan: jangan pernah memulai jalan yang sama, karena sekali menunda, langkah kecil itu akan mengikis nama baik yang lebih berharga dari segalanya.

Dan pada akhirnya, kita harus memilih:
Apakah kita ingin hidup dalam dongeng alasan yang tak pernah selesai?
Ataukah kita berani menulis kisah baru dengan keberanian menghadapi masalah, sekecil apa pun, sebelum semuanya terlambat?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *